Assalamualaikum wr wb,
Aku sudah lulus dari kuliah dan sudah mendapatkan pekerjaan yang bagus.Lamaran kepada diriku untuk menikah juga mulai berdatangan, akan tetapi aku tidak mendapatkan seorangpun yang bisa membuatku tertarik.
Kemudian kesibukan kerja dan karir memalingkan aku dari segala hal yang lain. Hingga aku sampai berumur 34 tahun.
Ketika itulah aku baru menyadari bagaimana susahnya terlambat menikah.
Pada suatu hari datang seorang pemuda meminangku. Usianya lebih tua dariku 2 tahun. Dia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Tapi aku ikhlas menerima dirinya apa adanya.
Kami mulai menghitung rencana pernikahan. Dia meminta kepadaku photo copy KTP untuk pengurusan surat-surat pernikahan. Aku segera menyerahkan itu kepadanya.
Setelah berlalu dua hari ibunya menghubungiku melalui telepon. Beliau memintaku untuk bertemu secepat mungkin.
Aku segera menemuinya. Tiba-tiba ia mengeluarkan photo copyan KTPku. Dia bertanya kepadaku apakah tanggal lahirku yang ada di KTP itu benar?
Aku menjawab: Benar.
Lalu ia berkata: Jadi umurmu sudah mendekati usia 40 tahun?!
Aku menjawab: Usiaku sekarang tepatnya 34 tahun.
Ibunya berkata lagi: Iya, sama saja.
Usiamu sudah lewat 30 tahun.
Itu artinya kesempatanmu untuk memiliki anak sudah semakin tipis.
Sementara aku ingin sekali menimang cucu.
Dia tidak mau diam sampai ia mengakhiri proses pinangan antara diriku dengan anaknya.
Masa-masa sulit itu berlalu sampai 6 bulan.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi melaksanakan ibadah umrah bersama ayahku, supaya aku bisa menyiram kesedihan dan kekecewaanku di Baitullah.
Akupun pergi ke Mekah.
Aku duduk menangis, berlutut di depan Ka’bah.
Aku memohon kepada Allah supaya diberi jalan terbaik.
Setelah selesai shalat, aku melihat seorang perempuan membaca al Qur’an dengan suara yang sangat merdu.
Aku mendengarnya lagi mengulang-ulang ayat:
(وكان فضل الله عليك عظيما)
“Dan karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar”.
(An Nisa’: 113)
Air mataku menetes dengan derasnya mendengar lantunan ayat itu.
Tiba-tiba perempuan itu merangkulku ke pangkuannya.
Dan ia mulai mengulang-ulang firman Allah:
(ولسوف يعطيك ربك فترضي)
“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas”.
(Adh Dhuha: 5)
Demi Allah, seolah-olah aku baru kali itu mendengar ayat itu seumur hidupku. Pengaruhnya luar biasa, jiwaku menjadi tenang.
Setelah seluruh ritual umrah selesai, aku kembali ke Cairo.
Di pesawat aku duduk di sebelah kiri ayahku, sementara disebelah kanan beliau duduk seorang pemuda.
Sesampainya pesawat di bandara, akupun turun.
Di ruang tunggu aku bertemu suami salah seorang temanku.
Kami bertanya kepadanya, dalam rangka apa ia datang ke bandara?
Dia menjawab bahwa ia lagi menunggu kedatangan temannya yang kembali dengan pesawat yang sama dengan yang aku tumpangi.
Hanya beberapa saat, tiba-tiba temannya itu datang.
Ternyata ia adalah pemuda yang duduk di kursi sebelah kanan ayahku tadi.
Selanjutnya aku berlalu dengan ayahku…..
Baru saja aku sampai di rumah dan ganti pakaian, lagi asik-asik istirahat, temanku yang suaminya tadi aku temui di bandara menelphonku.
Langsung saja ia mengatakan bahwa teman suaminya yang tadi satu pesawat denganku sangat tertarik kepada diriku.
Dia ingin bertemu denganku di rumah temanku tersebut malam itu juga.
Alasannya, kebaikan itu perlu disegerakan.
Jantungku berdenyut sangat kencang akibat kejutan yang tidak pernah aku bayangkan ini.
Lalu aku meminta pertimbangan ayahku terhadap tawaran suami temanku itu.
Beliau menyemangatiku untuk mendatanginya.
Boleh jadi dengan cara itu Allah memberiku jalan keluar.
Akhirnya…..aku pun datang berkunjung ke rumah temanku itu.
Hanya beberapa hari setelah itu pemuda tadi sudah datang melamarku secara resmi.
Dan hanya satu bulan setengah setelah pertemuan itu kami betul-betul sudah menjadi pasangan suami-istri.
Jantungku betul-betul mendenyutkan harapan kebahagiaan.
Kehidupanku berkeluarga dimulai dengan keoptimisan dan kebahagiaan.
Aku mendapatkan seorang suami yang betul-betul sesuai dengan harapanku.
Dia seorang yang sangat baik, penuh cinta, lembut, dermawan, punya akhlak yang subhanallah, ditambah lagi keluarganya yang sangat baik dan terhormat.
Namun sudah beberapa bulan berlalu belum juga ada tanda-tanda kehamilan pada diriku.
Perasaanku mulai diliputi kecemasan.
Apalagi usiaku waktu itu sudah memasuki 36 tahun.
Aku minta kepada suamiku untuk membawaku memeriksakan diri kepada dokter ahli kandungan.
Aku khawatir kalau-kalau aku tidak bisa hamil.
Kami pergi untuk periksa ke seorang dokter yang sudah terkenal dan berpengalaman.
Dia minta kepadaku untuk cek darah.
Ketika kami menerima hasil cek darah, ia berkata bahwa tidak ada perlunya aku melanjutkan pemeriksaan berikitnya, karena hasilnya sudah jelas.
Langsung saja ia mengucapkan “Selamat, anda hamil!”
Hari-hari kehamilanku pun berlalu dengan selamat, sekalipun aku mengalami kesusahan yang lebih dari orang biasanya.
Barangkali karena aku hamil di usia yang sudah agak berumur.
Sepanjang kehamilanku, aku tidak punya keinginan mengetahui jenis kelamin anak yang aku kandung.
Karena apapun yang dikaruniakan Allah kepadaku semua adalah nikmat dan karunia-Nya.
Setiap kali aku mengadukan bahwa rasanya kandunganku ini terlalu besar, dokter itu menjawab:
Itu karena kamu hamil di usia sudah sampai 36 tahun.
Selanjutnya datanglah hari-hari yang ditunggu, hari saatnya melahirkan.
Proses persalinan secara caesar berjalan dengan lancar.
Setelah aku sadar, dokter masuk ke kamarku dengan senyuman mengambang di wajahnya sambil bertanya tentang jenis kelamin anak yang aku harapkan.
Aku menjawab bahwa aku hanya mendambakan karunia Allah.
Tidak penting bagiku jenis kelaminnya. Laki-laki atau perempuan akan aku sambut dengan beribu syukur.
Aku dikagetkan dengan pernyataannya:
“Jadi bagaimana pendapatmu kalau kamu memperoleh Hasan, Husen dan Fatimah sekaligus?
Aku tidak paham apa gerangan yang ia bicarakan.
Dengan penuh penasaran aku bertanya apa yang ia maksudkan?
Lalu ia menjawab sambil menenangkan ku supaya jangan kaget dan histeris bahwa Allah telah mengaruniaku 3 orang anak sekaligus. 2 orang laki-laki dan 1 orang perempuan.
Seolah-olah Allah berkeinginan memberiku 3 orang anak sekaligus untuk mengejar ketinggalanku dan ketuaan umurku.
Sebenarnya dokter itu tahu kalau aku mengandung anak kembar 3, tapi ia tidak ingin menyampaikan hal itu kepadaku supaya aku tidak merasa cemas menjalani masa-masa kehamilanku.
Lantas aku menangis sambil mengulang-ulang ayat Allah:
(ولسوف يعطيك ربك فترضى)
“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas”. (Adh Dhuha: 5)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
(وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا )
“Dan bersabarlah menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami…” (Ath Thur: 48)
Bacalah ayat ini penuh tadabbur dan penghayatan, terus berdoalah dengan hati penuh yakin bahwa Allah tidak pernah dan tidak akan pernah menelantarkanmu.
Bila status ini ada manfaatnya silahkan di-share.
Jazaakumullahu khairan
Rasulallah SAW bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)
Silahkan Klik Like dan Bagikan di halamanmu agar kamu dan teman-temanmu senantiasa istiqomah dan bisa meningkatkan ketakwaannya kepada ALLAH SWT.
Sobat sekarang anda memiliki dua pilihan ,
1. Membiarkan sedikit pengetahuan ini hanya dibaca disini
2. Membagikan pengetahuan ini kesemua teman facebookmu , insyallah bermanfaat dan akan menjadi pahala bagimu. Aamiin..
,
🍃 Boleh di share biar lebih bermanfaat buat orang banyak, kalo pelit di simpen sendiri juga gak apa apa =D
🍃 Rasulullah S.A.W bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)
🍃 Silahkan Klik Like dan Bagikan di halamanmu agar kamu dan teman-temanmu senantiasa istiqomah dan bisa meningkatkan ketakwaannya kepada ALLAH SWT.
Ya ALLAH...
✔ Muliakanlah orang yang membaca dan membagikan status ini
✔ Entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid
✔ Lapangkanlah hatinya
✔ Bahagiakanlah keluarganya
✔ Luaskan rezekinya seluas lautan
✔ Mudahkan segala urusannya
✔ Kabulkan cita-citanya
✔ Jauhkan dari segala Musibah
✔ Jauhkan dari segala Penyakit,Fitnah,Prasangka Keji,Berkata Kasar dan Mungkar.
✔ Dan dekatkanlah jodohnya untuk orang yang
membaca dan membagikan status ini.
NASEHAT DAN KISAH INSPiRATIP
Sabtu, 14 September 2019
Jumat, 13 September 2019
Kalaulah Sempat...
Assalamualaikum ww.
Berikut sebuah tulisan yang saya tulis beberapa waktu lalu (Awal 2016) dan sempat melanglang buana di berbagai media sosial...
(Terakhir ada yang copas, mengedit dan menuliskan Seakan-akan merupakan tulisan atau pidato Pak Habibie di Cairo. Update 12/9/19)
Nasihat buat diri sendiri.. dan kita semua.
Kalaulah Sempat...
Seorang laki-laki tua duduk di teras rumahnya. Rumah yang besar namun sepi penghuni. Istri sudah lama meninggal. Tangan menggigil karena lemah, penyakit mnggerogoti sejak lama. Duduk tak enak, berjalan tak nyaman. Untunglah seorang kerabat jauh mau tinggal bersama menemani beserta satu orang pembantu.
Tiga anak, semua sukses. Berpendidikan sampai ke luar negeri. Ada yang sekarang berkarir di luar negeri. Ada yang bekerja di perusahaan asing dengan posisi tinggi, ada pula yang jadi pengusaha. Soal Ekonomi, angkat dua jempol. Semua kaya raya.
Namun, saat tua seperti Ini dia merasa hampa. Ada pilu mendesak disudut hatinya. Tidur tak nyaman, dia berjalan ke ruang tengah, memandangi foto-foto masa lalu. Foto laki-laki gagah dengan keluarganya berlatar tembok China. Menata Eifel, Big Ben, Sydney bridge. Berbagai belahan bumi telah dijejaknya. Diabadikan dengan foto dibingkai bagus yang tak mampu lagi dilihat pandangannya yang sudah mengabur.
Di rumahnya yang besar dia merasa kesepian. Tiada suara anak, cucu. Hanya detak jam yang berbunyi teratur. Pinggang dan Punggungnya terasa sakit, sesekali air liurnya keluar dari mulutnya. Sungguh tak nyaman.
Dari sudut mata ada air menetes. Rindu dikunjungi anaknya, tapi anaknya sibuk Dan tinggal jauh di kota lain. Rindu cucu-cucu menggelayuti tangan dan lututnya, namun hanya hayalan. Ingin pergi ke Masjid namun badan tak mampu. Begitu lama waktu ini bergerak. Tatapannya hampa. Jiwanya kosong, hanya gelisah yang menyeruak.. Sepanjang waktu...
Laki-laki itu, barangkali adalah Saya. Nanti. Barangkali Anda yang membaca tulisan ini suatu saat nanti. Hanya menunggu sesuatu yang tak pasti. Yang pasti hanya kematian. Rumah besar tak mampu lagi menyenangkan hati. Anak sukses tak mampu menyejukkan hati. Cucu-cucu yang seperti orang asing. Asset-asset produktif yang terus menghasilkan, entah untuk siapa.
Kira-kira jika datang malaikat menjemput. akan seperti apakah kematian Ini? Siapa yang akan memandikan? Dimana kita akan dikuburkan? Sempatkah anak datang menyelenggarakan mayat Dan menguburkan kita
Apa amal yang akan dibawa ke akhirat nanti? Rumah akan tinggal, asset akan tinggal. Anak-anak entah akan ingat untuk berdoa atau tidak. Sedang shalat mereka sendiri saja belum tentu berisi. Apa lagi jika dulu anak tak sempat dididik sesuai tuntunan Yang Maha Kuasa. Ilmu agama hanya sebagai sisipan saja. Mereka malah tidak ingat berdoa untuk kita. Malangnya.
Kalau lah sempat dahulu menyumbang yang cukup berarti di Masjid, Rumah yatim, panti asuhan.
Kalau lah sempat dahulu membeli sayur dan melebihkan uang pada nenek tua yang selalu datang. Kalaulah dahulu sempat memberikan sandal untuk disumbangkan di Masjid biar dipakai orang. Kalaulah sempat membelikan buah buat tetangga, kenalan dan handai taulan. Mungkin itu semua akan menjadi amal penolong kita.
Kalaulah dahulu anak disiapkan menjadi Muslim yang Shaleh. Ilmu agama Dan ilmu Al-Qurannya lebih diutamakan. Ibadah shalat dan sedekahnya dituntun. Maka mungkin mereka senantiasa akan terbangun malam, meneteskan air mata medoakan kita orang tuanya.
Kalaulah sempat membagi ilmu dengan ikhlas pada orang sehingga bermanfaat baginya...
Kalaulah sempat... Mengapa kalau sempat? Mengapa itu semua tidak jadi perhatian utama kita? Sungguh kita tidak adil pada diri sendiri. Kenapa kita tidak lebih serius menyiapkan bekal untuk menhadapNya nanti?
Semoga tulisan kecil Ini menjadi nasihat bagi diri saya, bagi kita semua. Berseriuslah menyiapkan diri menghadapi kematian, Dan kehidupan akhirat yang kekal.
Penulis : Henmaidi Alfian - Lecture di UNAND Padang
Tgl. 20 April 2012
Berikut sebuah tulisan yang saya tulis beberapa waktu lalu (Awal 2016) dan sempat melanglang buana di berbagai media sosial...
(Terakhir ada yang copas, mengedit dan menuliskan Seakan-akan merupakan tulisan atau pidato Pak Habibie di Cairo. Update 12/9/19)
Nasihat buat diri sendiri.. dan kita semua.
Kalaulah Sempat...
Seorang laki-laki tua duduk di teras rumahnya. Rumah yang besar namun sepi penghuni. Istri sudah lama meninggal. Tangan menggigil karena lemah, penyakit mnggerogoti sejak lama. Duduk tak enak, berjalan tak nyaman. Untunglah seorang kerabat jauh mau tinggal bersama menemani beserta satu orang pembantu.
Tiga anak, semua sukses. Berpendidikan sampai ke luar negeri. Ada yang sekarang berkarir di luar negeri. Ada yang bekerja di perusahaan asing dengan posisi tinggi, ada pula yang jadi pengusaha. Soal Ekonomi, angkat dua jempol. Semua kaya raya.
Namun, saat tua seperti Ini dia merasa hampa. Ada pilu mendesak disudut hatinya. Tidur tak nyaman, dia berjalan ke ruang tengah, memandangi foto-foto masa lalu. Foto laki-laki gagah dengan keluarganya berlatar tembok China. Menata Eifel, Big Ben, Sydney bridge. Berbagai belahan bumi telah dijejaknya. Diabadikan dengan foto dibingkai bagus yang tak mampu lagi dilihat pandangannya yang sudah mengabur.
Di rumahnya yang besar dia merasa kesepian. Tiada suara anak, cucu. Hanya detak jam yang berbunyi teratur. Pinggang dan Punggungnya terasa sakit, sesekali air liurnya keluar dari mulutnya. Sungguh tak nyaman.
Dari sudut mata ada air menetes. Rindu dikunjungi anaknya, tapi anaknya sibuk Dan tinggal jauh di kota lain. Rindu cucu-cucu menggelayuti tangan dan lututnya, namun hanya hayalan. Ingin pergi ke Masjid namun badan tak mampu. Begitu lama waktu ini bergerak. Tatapannya hampa. Jiwanya kosong, hanya gelisah yang menyeruak.. Sepanjang waktu...
Laki-laki itu, barangkali adalah Saya. Nanti. Barangkali Anda yang membaca tulisan ini suatu saat nanti. Hanya menunggu sesuatu yang tak pasti. Yang pasti hanya kematian. Rumah besar tak mampu lagi menyenangkan hati. Anak sukses tak mampu menyejukkan hati. Cucu-cucu yang seperti orang asing. Asset-asset produktif yang terus menghasilkan, entah untuk siapa.
Kira-kira jika datang malaikat menjemput. akan seperti apakah kematian Ini? Siapa yang akan memandikan? Dimana kita akan dikuburkan? Sempatkah anak datang menyelenggarakan mayat Dan menguburkan kita
Apa amal yang akan dibawa ke akhirat nanti? Rumah akan tinggal, asset akan tinggal. Anak-anak entah akan ingat untuk berdoa atau tidak. Sedang shalat mereka sendiri saja belum tentu berisi. Apa lagi jika dulu anak tak sempat dididik sesuai tuntunan Yang Maha Kuasa. Ilmu agama hanya sebagai sisipan saja. Mereka malah tidak ingat berdoa untuk kita. Malangnya.
Kalau lah sempat dahulu menyumbang yang cukup berarti di Masjid, Rumah yatim, panti asuhan.
Kalau lah sempat dahulu membeli sayur dan melebihkan uang pada nenek tua yang selalu datang. Kalaulah dahulu sempat memberikan sandal untuk disumbangkan di Masjid biar dipakai orang. Kalaulah sempat membelikan buah buat tetangga, kenalan dan handai taulan. Mungkin itu semua akan menjadi amal penolong kita.
Kalaulah dahulu anak disiapkan menjadi Muslim yang Shaleh. Ilmu agama Dan ilmu Al-Qurannya lebih diutamakan. Ibadah shalat dan sedekahnya dituntun. Maka mungkin mereka senantiasa akan terbangun malam, meneteskan air mata medoakan kita orang tuanya.
Kalaulah sempat membagi ilmu dengan ikhlas pada orang sehingga bermanfaat baginya...
Kalaulah sempat... Mengapa kalau sempat? Mengapa itu semua tidak jadi perhatian utama kita? Sungguh kita tidak adil pada diri sendiri. Kenapa kita tidak lebih serius menyiapkan bekal untuk menhadapNya nanti?
Semoga tulisan kecil Ini menjadi nasihat bagi diri saya, bagi kita semua. Berseriuslah menyiapkan diri menghadapi kematian, Dan kehidupan akhirat yang kekal.
Penulis : Henmaidi Alfian - Lecture di UNAND Padang
Tgl. 20 April 2012
Senin, 02 September 2019
*📚MUHASABAH* 📚
*📚MUHASABAH* 📚
Tidak ada
*"orang baik"*
yang tidak punya
*"masa lalu"*,
Dan tidak ada
*"orang jahat"*
yang tidak punya
*"masa depan"*.
Setiap orang memiliki
*"kesempatan"*
yang sama untuk
*"berubah menjadi lebih baik"*.
Bagaimanapun masa lalunya dahulu, sekelam apa lingkungannya dulu, dan seburuk apa perangainya di masa lampau..
Berilah kesempatan seseorang untuk
*"berubah"*.
Karena,
*"seseorang yang hampir membunuh Rasul pun"*
kini berbaring di sebelah makam beliau. :
*"Umar bin Khattab".*
Jangan melihat seseorang dari masa lalunya..
*"Seseorang yang pernah berperang melawan agama Allah pun"*
akhirnya menjadi pedang-nya
*Allah* :
*"Khalid bin Walid"*
Jangan memandang seseorang dari
*"status"* dan *"hartanya"*,
karena
*sepatu emas "fir'aun" berada di neraka*,
sedangkan
*terompah "Bilal bin rabah" terdengar di syurga.*
*Intinya*,
Jangan memandang
*"remeh"*
seseorang karena
*"masa lalu"*
dan
*"lingkungannya"*,
karena
*bunga teratai*
tetap
*mekar cantik*
meski tinggal di air yang kotor.
Maka untuk jadi
*"hebat"*
yang diperlukan adalah
*"kuatnya tekad"*.
Tak perlu pusingkan masa lalu,
tak perlu malu dengan tempat asalmu.
Jika kau mau,
Kau bisa menjadi laksana
*bunga teratai*
yang tinggal di air yang kotor namun tetap *mekar mengagumkan*.
*"Berubah"*
dan
*"bangkit"*
jauh lebih
*"indah"*
dari pada
*"diam"*
dan hanya *"bermimpi"*
tanpa melakukan tindakan apapun.
*INGATLAH !!!*
Jika semua yang kita
*"kehendaki"*
terus kita
*"miliki"*,
dari mana kita belajar *"Ikhlas"...*?
Jika semua yang kita
*"impikan"*
segera
*"terwujud"*,
darimana kita belajar
*"Sabar"...*
Jika setiap
*"do’a"*
kita terus
*"dikabulkan"*,
bagaimana kita dapat belajar
*"Ikhtiar"...*
Seorang yang dekat dengan
*"Allah"*,
bukan berarti tidak ada
*"air mata"...*
Seorang yang tekun
*"berdo’a"*,
bukan berarti tidak ada
*"masa² sulit"...*
Biarlah
*"Sang Penyelenggara Hidup"*
yang berdaulat sepenuhnya atas kita,
karena hanya
*"Dia-lah/ ALLAH SWT"*
yang tahu waktu dan kondisi yang tepat untuk memberikan yang
*"Terbaik"..*
Tetap
*"SEMANGAT"…*
Tetap
*"SABAR"…*
Tetap
*"IKHLAS"…*
Tetap
*"SYUKUR"...*
Tetap
*"BERDOA"...*
Karena kamu sedang kuliah di *_UNIVERSITAS KEHIDUPAN..._*
Orang yang
*"Hebat"*
tidak dihasilkan melalui
*"Kemudahan",*
*"Kesenangan",*
dan
*"Kenyamanan"...*
Mereka dibentuk melalui
*"KESUKARAN",*
*"TANTANGAN",*
*"HINAAN"*
dan bahkan
*"AIR MATA"*..
Gantungkan hidup kita sepenuhnya hanya kepada
*_ALLAH AZZA WA JALLA_*
Semoga jadi renungan kita bersama
Tidak ada
*"orang baik"*
yang tidak punya
*"masa lalu"*,
Dan tidak ada
*"orang jahat"*
yang tidak punya
*"masa depan"*.
Setiap orang memiliki
*"kesempatan"*
yang sama untuk
*"berubah menjadi lebih baik"*.
Bagaimanapun masa lalunya dahulu, sekelam apa lingkungannya dulu, dan seburuk apa perangainya di masa lampau..
Berilah kesempatan seseorang untuk
*"berubah"*.
Karena,
*"seseorang yang hampir membunuh Rasul pun"*
kini berbaring di sebelah makam beliau. :
*"Umar bin Khattab".*
Jangan melihat seseorang dari masa lalunya..
*"Seseorang yang pernah berperang melawan agama Allah pun"*
akhirnya menjadi pedang-nya
*Allah* :
*"Khalid bin Walid"*
Jangan memandang seseorang dari
*"status"* dan *"hartanya"*,
karena
*sepatu emas "fir'aun" berada di neraka*,
sedangkan
*terompah "Bilal bin rabah" terdengar di syurga.*
*Intinya*,
Jangan memandang
*"remeh"*
seseorang karena
*"masa lalu"*
dan
*"lingkungannya"*,
karena
*bunga teratai*
tetap
*mekar cantik*
meski tinggal di air yang kotor.
Maka untuk jadi
*"hebat"*
yang diperlukan adalah
*"kuatnya tekad"*.
Tak perlu pusingkan masa lalu,
tak perlu malu dengan tempat asalmu.
Jika kau mau,
Kau bisa menjadi laksana
*bunga teratai*
yang tinggal di air yang kotor namun tetap *mekar mengagumkan*.
*"Berubah"*
dan
*"bangkit"*
jauh lebih
*"indah"*
dari pada
*"diam"*
dan hanya *"bermimpi"*
tanpa melakukan tindakan apapun.
*INGATLAH !!!*
Jika semua yang kita
*"kehendaki"*
terus kita
*"miliki"*,
dari mana kita belajar *"Ikhlas"...*?
Jika semua yang kita
*"impikan"*
segera
*"terwujud"*,
darimana kita belajar
*"Sabar"...*
Jika setiap
*"do’a"*
kita terus
*"dikabulkan"*,
bagaimana kita dapat belajar
*"Ikhtiar"...*
Seorang yang dekat dengan
*"Allah"*,
bukan berarti tidak ada
*"air mata"...*
Seorang yang tekun
*"berdo’a"*,
bukan berarti tidak ada
*"masa² sulit"...*
Biarlah
*"Sang Penyelenggara Hidup"*
yang berdaulat sepenuhnya atas kita,
karena hanya
*"Dia-lah/ ALLAH SWT"*
yang tahu waktu dan kondisi yang tepat untuk memberikan yang
*"Terbaik"..*
Tetap
*"SEMANGAT"…*
Tetap
*"SABAR"…*
Tetap
*"IKHLAS"…*
Tetap
*"SYUKUR"...*
Tetap
*"BERDOA"...*
Karena kamu sedang kuliah di *_UNIVERSITAS KEHIDUPAN..._*
Orang yang
*"Hebat"*
tidak dihasilkan melalui
*"Kemudahan",*
*"Kesenangan",*
dan
*"Kenyamanan"...*
Mereka dibentuk melalui
*"KESUKARAN",*
*"TANTANGAN",*
*"HINAAN"*
dan bahkan
*"AIR MATA"*..
Gantungkan hidup kita sepenuhnya hanya kepada
*_ALLAH AZZA WA JALLA_*
Semoga jadi renungan kita bersama
Jumat, 30 Agustus 2019
Kamis, 29 Agustus 2019
JANGAN ANGGAP REMEH MENGIBAS DEBU DI KASUR d
Mengapa kita harus mengibas debu seprai kita ?.
Ini adalah apa yang kita akan ungkapkan dan di sinilah tantangan ilmiah dan kesimpulan oleh para ilmuwan Barat :
_*"Ketika seseorang tidur beberapa sel-sel mati dan jatuh ke spreinya. Dan setiap kali kita bangun ia akan akan tertinggal di belakang dan terakumulasi. Sel-sel mati ini tidak terlihat oleh mata telanjang dan hampir tidak dapat dihancurkan.*_
_*Ketika jumlah sel-sel mati meningkat, maka akan dengan mudah menembus kembali ke dalam tubuh yang menyebabkan penyakit serius.*_
Ini ilmuwan Barat mencoba untuk menghancurkan sel menggunakan berbagai disinfektan seperti dettol dan sejenisnya, tapi semua sia-sia. Sel-sel mati tidak pindah atau menghilang.
Salah satu ilmuwan mengatakan, ia mencoba mengibas debu 3 kali seperti dalam Hadist dan tercengang menemukan bahwa semua sel-sel mati menghilang !!.
Subhanallah...
Nabi Muhammad ﷺ bersabda, _*"Barangsiapa pergi ke tempat tidur, ia harus mengibas debu di kasur tidurnya tiga kali, karena dia tidak tahu apa yang ditinggalkan."*_
Kebanyakan orang berpikir itu adalah cara menghilangkan serangga kecil, tetapi tidak tahu bahwa masalah ini jauh lebih besar dari itu.
Hal ini sangat menyedihkan, bila kita menemukan bahwa kebanyakan dari kita mengabaikan ajaran Nabi Muhammad ﷺ.
Sebab itulah Rasulullah SAW mengajarkan untuk melakukan beberapa hal sebelum membaringkan tubuh di atas kasur. Di antara sunnah yang penting untuk dikerjakan ialah membersihkan atau mengibas kasur dengan lidi, kain, dan bisa juga peralatan lain.
Sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam sebuah riwayat, _*"Apabila salah seorang diantara kalian hendak tidur, maka kibasilah tempat tidurnya dengan ujung sarungnya, karena sesungguhnya dia tidak tahu apa yang akan menimpa padanya.”*_
Lidi yang dikibaskan ke kasur tempat di mana kita akan tidur, akan mengusir segala bentuk gangguan yang kemungkinan menetap di atasnya. Semisal Jin yang menempati kasur-kasur itu, akan terusir dengan kibasan yang kita lakukan. Selain itu, bisa juga untuk menghindari adanya kotoran-kotoran lain.
Dalam Syarah Shahih Muslim diterangkan, bahwa seseorang hendaknya mengibaskan kasurnya sebelum tidur, baik dengan tangan, sapu lidi, kain sarung atau sejenisnya. Mengibas sebanyak tiga kali, sebagaimana tertuang dalam Fathul Barri. Tidak lupa pula membacakan Asma Allah SWT bersama kibasannya. Kalimat Bismillah menjadi yang penting, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah riwayat Imam Muslim. Bagi orang yang bangkit dari tidurnya dan kemudian kembali lagi, berdasar pada Hadist riwayat Tirmidzi, maka hendaknya ia kembali mengibas kasurnya lagi.
Mudah-mudahan dengan amalan yang sederhana ini, kita dapat terhindar dari tidur bersama dengan Jin dan Syaitan yang juga ikut berbaring di atas tempat tidur.
Silahkan di share ini dan biarkan seluruh dunia tahu bahwa apa pun perintah Allah SWT lewat baginda Nabi Muhammad SAW adalah untuk kepentingan dan kebaikan manusia.
Wallahu A'lam Bisshowab.
Ini adalah apa yang kita akan ungkapkan dan di sinilah tantangan ilmiah dan kesimpulan oleh para ilmuwan Barat :
_*"Ketika seseorang tidur beberapa sel-sel mati dan jatuh ke spreinya. Dan setiap kali kita bangun ia akan akan tertinggal di belakang dan terakumulasi. Sel-sel mati ini tidak terlihat oleh mata telanjang dan hampir tidak dapat dihancurkan.*_
_*Ketika jumlah sel-sel mati meningkat, maka akan dengan mudah menembus kembali ke dalam tubuh yang menyebabkan penyakit serius.*_
Ini ilmuwan Barat mencoba untuk menghancurkan sel menggunakan berbagai disinfektan seperti dettol dan sejenisnya, tapi semua sia-sia. Sel-sel mati tidak pindah atau menghilang.
Salah satu ilmuwan mengatakan, ia mencoba mengibas debu 3 kali seperti dalam Hadist dan tercengang menemukan bahwa semua sel-sel mati menghilang !!.
Subhanallah...
Nabi Muhammad ﷺ bersabda, _*"Barangsiapa pergi ke tempat tidur, ia harus mengibas debu di kasur tidurnya tiga kali, karena dia tidak tahu apa yang ditinggalkan."*_
Kebanyakan orang berpikir itu adalah cara menghilangkan serangga kecil, tetapi tidak tahu bahwa masalah ini jauh lebih besar dari itu.
Hal ini sangat menyedihkan, bila kita menemukan bahwa kebanyakan dari kita mengabaikan ajaran Nabi Muhammad ﷺ.
Sebab itulah Rasulullah SAW mengajarkan untuk melakukan beberapa hal sebelum membaringkan tubuh di atas kasur. Di antara sunnah yang penting untuk dikerjakan ialah membersihkan atau mengibas kasur dengan lidi, kain, dan bisa juga peralatan lain.
Sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam sebuah riwayat, _*"Apabila salah seorang diantara kalian hendak tidur, maka kibasilah tempat tidurnya dengan ujung sarungnya, karena sesungguhnya dia tidak tahu apa yang akan menimpa padanya.”*_
Lidi yang dikibaskan ke kasur tempat di mana kita akan tidur, akan mengusir segala bentuk gangguan yang kemungkinan menetap di atasnya. Semisal Jin yang menempati kasur-kasur itu, akan terusir dengan kibasan yang kita lakukan. Selain itu, bisa juga untuk menghindari adanya kotoran-kotoran lain.
Dalam Syarah Shahih Muslim diterangkan, bahwa seseorang hendaknya mengibaskan kasurnya sebelum tidur, baik dengan tangan, sapu lidi, kain sarung atau sejenisnya. Mengibas sebanyak tiga kali, sebagaimana tertuang dalam Fathul Barri. Tidak lupa pula membacakan Asma Allah SWT bersama kibasannya. Kalimat Bismillah menjadi yang penting, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah riwayat Imam Muslim. Bagi orang yang bangkit dari tidurnya dan kemudian kembali lagi, berdasar pada Hadist riwayat Tirmidzi, maka hendaknya ia kembali mengibas kasurnya lagi.
Mudah-mudahan dengan amalan yang sederhana ini, kita dapat terhindar dari tidur bersama dengan Jin dan Syaitan yang juga ikut berbaring di atas tempat tidur.
Silahkan di share ini dan biarkan seluruh dunia tahu bahwa apa pun perintah Allah SWT lewat baginda Nabi Muhammad SAW adalah untuk kepentingan dan kebaikan manusia.
Wallahu A'lam Bisshowab.
Selasa, 27 Agustus 2019
KISAH NYATA MENGGUGAH JIWA
*_Kopi Pagi_*
Diceritakan oleh seorang Khatib ketika Khutbah Jum'at:
Seorang anak berumur 10 th namanya Umar. Dia anak pengusaha sukses yg kaya raya. Oleh ayahnya si Umar di sekolahkan di SD Internasional paling bergengsi di Jakarta. Tentu bisa ditebak, bayarannya sangat mahal. Tapi bagi si pengusaha, tentu bukan masalah, karena uangnya berlimpah.
Si ayah berfikir kalau anaknya harus mendapat bekal pendidikan terbaik di semua jenjang, agar anaknya kelak menjadi orang yg sukses mengikuti jejaknya.
Suatu hari isterinya kasih tau kalau Sabtu depan si ayah diundang menghadiri acara “Father’s Day” di sekolah Umar.
“Waduuuh saya sibuk mah, kamu aja deh yg datang.” begitu ucap si ayah kepada isterinya.
Bagi dia acara beginian sangat nggak penting, dibanding urusan bisnis besarnya. Tapi kali ini isterinya marah dan mengancam, sebab sudah kesekian kalinya si ayah nggak pernah mau datang ke acara anaknya. Dia malu karena anaknya selalu didampingi ibunya, sedang anak2 yg lain selalu didampingi ayahnya.
Nah karena diancam isterinya, akhirnya si ayah mau hadir meski agak ogah2an. Father’s day adalah acara yg dikemas khusus dimana anak2 saling unjuk kemampuan di depan ayah2nya.
Karena ayah si Umar ogah2an maka dia memilih duduk di paling belakang, sementara para ayah yg lain (terutama yg muda2) berebut duduk di depan agar bisa menyemangati anak2nya yang akan tampil di panggung.
Satu persatu anak2 menampilkan bakat dan kebolehannya masing2. Ada yg menyanyi, menari, membaca puisi, pantomim. Ada pula yang pamerkan lukisannya, dll. Semua mendapat applause yang gegap gempita dari ayah2 mereka.
Tibalah giliran si Umar dipanggil gurunya untuk menampilkan kebolehannya...
“Miss, bolehkah saya panggil pak Arief.” tanya si Umar kpd gurunya. Pak Arief adalah guru mengaji untuk kegiatan ekstra kurikuler di sekolah itu.
”Oh boleh..” begitu jawab gurunya.
Dan pak Arief pun dipanggil ke panggung.“Pak Arief, bolehkah bapak membuka Kitab Suci Al Qur’an Surat 78 (An-Naba’)” begitu Umar minta kepada guru ngajinya.
”Tentu saja boleh nak..” jawab pak Arief.
“Tolong bapak perhatikan apakah bacaan saya ada yang salah.”
Lalu si Umar mulai melantunkan QS An-Naba’ tanpa membaca mushafnya (hapalan) dengan lantunan irama yg persis seperti bacaan “Syaikh Sudais” (Imam Besar Masjidil Haram).
Semua hadirin diam terpaku mendengarkan bacaan si Umar yg mendayu-dayu, termasuk ayah si Umar yang duduk dibelakang.
”Stop, kamu telah selesai membaca ayat 1 s/d 5 dengan sempurna. Sekarang coba kamu baca ayat 9..” begitu kata pak Arief yg tiba2 memotong bacaan Umar.
Lalu Umar pun membaca ayat 9.
”Stop, coba sekarang baca ayat 21..lalu ayat 33..” setelah usai Umar membacanya…lalu kata pak Arief, "Sekarang kamu baca ayat 40 (ayat terakhir)”.
Si Umar pun membaca ayat ke 40 tsb sampai selesai."
“Subhanallah…kamu hafal Surat An-Naba’ dengan sempurna nak,” begitu teriak pak Arief sambil mengucurkan air matanya.
Para hadirin yang muslim pun tak kuasa menahan airmatanya. Lalu pak Arief bertanya kepada Umar, ”Kenapa kamu memilih menghafal Al-Qur’an dan membacakannya di acara ini nak, sementara teman2mu unjuk kebolehan yg lain?” begitu tanya pak Arief penasaran.
Begini pak guru, waktu saya malas mengaji dalam mengikuti pelajaran bapak, Bapak menegur saya sambil menyampaikan sabda Rasulullah SAW, ”Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab, "Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (H.R. Al-Hakim).
“Pak guru, saya ingin mempersembahkan “Jubah Kemuliaan” kepada ibu dan ayah saya di hadapan Allah di akherat kelak, sebagai seorang anak yang berbakti kepada kedua orangnya..”
Semua orang terkesiap dan tidak bisa membendung air matanya mendengar ucapan anak berumur 10 tahun tsb…
Ditengah suasana hening tsb..tiba2 terdengar teriakan “Allahu Akbar!” dari seseorang yang lari dari belakang menuju ke panggung.
Ternyata dia ayah si Umar, yang dengan ter-gopoh2 langsung menubruk sang anak, bersimpuh sambil memeluk kaki anaknya.
”Ampuun nak.. maafkan ayah yang selama ini tidak pernah memperhatikanmu, tidak pernah mendidikmu dengan ilmu agama, apalagi mengajarimu membaca Al Quran.” ucap sang ayah sambil menangis di kaki anaknya.
”Ayah menginginkan agar kamu sukses di dunia nak, ternyata kamu malah memikirkan “kemuliaan ayah” di akherat kelak. Ayah maluuu nak" ujar sang ayah sambil nangis ter-sedu2.
Semua jama’ah pun terpana, dan juga mulai meneteskan airmatanya, termasuk saya.
Diantara jama’ah pun bahkan ada yang tidak bisa menyembunyikan suara isak tangisnya, luar biasa haru. Entah apa yang ada dibenak jama’ah yang menangis itu. Mungkin ada yang merasa berdosa karena menelantarkan anaknya, mungkin merasa bersalah karena lalai mengajarkan agama kepada anaknya, mungkin menyesal krn tdk mengajari anaknya membaca Al Quran, atau merasa berdosa karena malas membaca Al-Qur’an yg hanya tergeletak di rak bukunya.
Ya Allah...
😊✔ Muliakanlah orang yang membaca status ini
😊✔ Lapangkanlah hatinya
😊✔ Bahagiakanlah keluarganya
😊✔ Luaskan rezekinya seluas lautan
😊✔ Mudahkan segala urusannya
😊✔ Kabulkan cita-citanya
😊✔ Jauhkan dari segala Musibah
😊✔ Jauhkan dari segala Penyakit, Fitnah,Prasangka Keji, Berkata Kasar, dan Mungkar
😊✔ Dan semoga yg me-LIKE, komen Aamiin dan membagikan status ini rezekinya berlimpah aamiin..
Boleh di SHARE sebanyak mungkin!!
Diceritakan oleh seorang Khatib ketika Khutbah Jum'at:
Seorang anak berumur 10 th namanya Umar. Dia anak pengusaha sukses yg kaya raya. Oleh ayahnya si Umar di sekolahkan di SD Internasional paling bergengsi di Jakarta. Tentu bisa ditebak, bayarannya sangat mahal. Tapi bagi si pengusaha, tentu bukan masalah, karena uangnya berlimpah.
Si ayah berfikir kalau anaknya harus mendapat bekal pendidikan terbaik di semua jenjang, agar anaknya kelak menjadi orang yg sukses mengikuti jejaknya.
Suatu hari isterinya kasih tau kalau Sabtu depan si ayah diundang menghadiri acara “Father’s Day” di sekolah Umar.
“Waduuuh saya sibuk mah, kamu aja deh yg datang.” begitu ucap si ayah kepada isterinya.
Bagi dia acara beginian sangat nggak penting, dibanding urusan bisnis besarnya. Tapi kali ini isterinya marah dan mengancam, sebab sudah kesekian kalinya si ayah nggak pernah mau datang ke acara anaknya. Dia malu karena anaknya selalu didampingi ibunya, sedang anak2 yg lain selalu didampingi ayahnya.
Nah karena diancam isterinya, akhirnya si ayah mau hadir meski agak ogah2an. Father’s day adalah acara yg dikemas khusus dimana anak2 saling unjuk kemampuan di depan ayah2nya.
Karena ayah si Umar ogah2an maka dia memilih duduk di paling belakang, sementara para ayah yg lain (terutama yg muda2) berebut duduk di depan agar bisa menyemangati anak2nya yang akan tampil di panggung.
Satu persatu anak2 menampilkan bakat dan kebolehannya masing2. Ada yg menyanyi, menari, membaca puisi, pantomim. Ada pula yang pamerkan lukisannya, dll. Semua mendapat applause yang gegap gempita dari ayah2 mereka.
Tibalah giliran si Umar dipanggil gurunya untuk menampilkan kebolehannya...
“Miss, bolehkah saya panggil pak Arief.” tanya si Umar kpd gurunya. Pak Arief adalah guru mengaji untuk kegiatan ekstra kurikuler di sekolah itu.
”Oh boleh..” begitu jawab gurunya.
Dan pak Arief pun dipanggil ke panggung.“Pak Arief, bolehkah bapak membuka Kitab Suci Al Qur’an Surat 78 (An-Naba’)” begitu Umar minta kepada guru ngajinya.
”Tentu saja boleh nak..” jawab pak Arief.
“Tolong bapak perhatikan apakah bacaan saya ada yang salah.”
Lalu si Umar mulai melantunkan QS An-Naba’ tanpa membaca mushafnya (hapalan) dengan lantunan irama yg persis seperti bacaan “Syaikh Sudais” (Imam Besar Masjidil Haram).
Semua hadirin diam terpaku mendengarkan bacaan si Umar yg mendayu-dayu, termasuk ayah si Umar yang duduk dibelakang.
”Stop, kamu telah selesai membaca ayat 1 s/d 5 dengan sempurna. Sekarang coba kamu baca ayat 9..” begitu kata pak Arief yg tiba2 memotong bacaan Umar.
Lalu Umar pun membaca ayat 9.
”Stop, coba sekarang baca ayat 21..lalu ayat 33..” setelah usai Umar membacanya…lalu kata pak Arief, "Sekarang kamu baca ayat 40 (ayat terakhir)”.
Si Umar pun membaca ayat ke 40 tsb sampai selesai."
“Subhanallah…kamu hafal Surat An-Naba’ dengan sempurna nak,” begitu teriak pak Arief sambil mengucurkan air matanya.
Para hadirin yang muslim pun tak kuasa menahan airmatanya. Lalu pak Arief bertanya kepada Umar, ”Kenapa kamu memilih menghafal Al-Qur’an dan membacakannya di acara ini nak, sementara teman2mu unjuk kebolehan yg lain?” begitu tanya pak Arief penasaran.
Begini pak guru, waktu saya malas mengaji dalam mengikuti pelajaran bapak, Bapak menegur saya sambil menyampaikan sabda Rasulullah SAW, ”Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab, "Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (H.R. Al-Hakim).
“Pak guru, saya ingin mempersembahkan “Jubah Kemuliaan” kepada ibu dan ayah saya di hadapan Allah di akherat kelak, sebagai seorang anak yang berbakti kepada kedua orangnya..”
Semua orang terkesiap dan tidak bisa membendung air matanya mendengar ucapan anak berumur 10 tahun tsb…
Ditengah suasana hening tsb..tiba2 terdengar teriakan “Allahu Akbar!” dari seseorang yang lari dari belakang menuju ke panggung.
Ternyata dia ayah si Umar, yang dengan ter-gopoh2 langsung menubruk sang anak, bersimpuh sambil memeluk kaki anaknya.
”Ampuun nak.. maafkan ayah yang selama ini tidak pernah memperhatikanmu, tidak pernah mendidikmu dengan ilmu agama, apalagi mengajarimu membaca Al Quran.” ucap sang ayah sambil menangis di kaki anaknya.
”Ayah menginginkan agar kamu sukses di dunia nak, ternyata kamu malah memikirkan “kemuliaan ayah” di akherat kelak. Ayah maluuu nak" ujar sang ayah sambil nangis ter-sedu2.
Semua jama’ah pun terpana, dan juga mulai meneteskan airmatanya, termasuk saya.
Diantara jama’ah pun bahkan ada yang tidak bisa menyembunyikan suara isak tangisnya, luar biasa haru. Entah apa yang ada dibenak jama’ah yang menangis itu. Mungkin ada yang merasa berdosa karena menelantarkan anaknya, mungkin merasa bersalah karena lalai mengajarkan agama kepada anaknya, mungkin menyesal krn tdk mengajari anaknya membaca Al Quran, atau merasa berdosa karena malas membaca Al-Qur’an yg hanya tergeletak di rak bukunya.
Ya Allah...
😊✔ Muliakanlah orang yang membaca status ini
😊✔ Lapangkanlah hatinya
😊✔ Bahagiakanlah keluarganya
😊✔ Luaskan rezekinya seluas lautan
😊✔ Mudahkan segala urusannya
😊✔ Kabulkan cita-citanya
😊✔ Jauhkan dari segala Musibah
😊✔ Jauhkan dari segala Penyakit, Fitnah,Prasangka Keji, Berkata Kasar, dan Mungkar
😊✔ Dan semoga yg me-LIKE, komen Aamiin dan membagikan status ini rezekinya berlimpah aamiin..
Boleh di SHARE sebanyak mungkin!!
Langganan:
Postingan (Atom)
Kisah Nyata
Assalamualaikum wr wb, Aku sudah lulus dari kuliah dan sudah mendapatkan pekerjaan yang bagus.Lamaran kepada diriku untuk menikah juga m...
-
mutiara nasehat 💌 *BERKATA YANG BAIK ATAU DIAM* Dalam sebuah nasehatnya, *Rasulullah* _shallallahu 'alaihi wa sallam_ bersabda: ㅤ ...
-
*Assalamu'alaikum,,* *Warahmatullahi,,* *Wabarakatuuh,,* Masya Allah.. *kreatif banget yang menulis pesan ini*, tolong share *bagika...
-
*📚MUHASABAH* 📚 Tidak ada *"orang baik"* yang tidak punya *"masa lalu"*, Dan tidak ada *"orang jahat...